Senin, 14 Juni 2010

Kesiapan Anak Usia Dini untuk Memulai Pendidikan Formal

Kesiapan Anak Usia Dini untuk Memulai Pendidikan Formal

I. Pendahuluan
Pada era sekarang ini, kecendrungan orang tua atau pengasuh tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika anak mulai mogok sekolah. Hal itu seringkali disebabkan si anak tidak mampu mengungkapkan perasaannya secara terus terang mengenai masalah yang dihadapi. Hal ini diperparah oleh situasi dimana kebersamaan antara orang tua dengan anak pada saat ini sudah sangat terbatas. Di kota-kota besar umumnya orang tua mempercayakan penjagaan anak kepada baby sister atau pembantu untuk menjaga dan merawat anaknya, sehingga komunikasi antara anak dengan orang tua melalui orang ketiga. Apalagi bagi anak usia dini yang masih berusia 2 tahun hingga 5 tahun hal ini sangat kurang tepat dan tidak baik.
Tanpa diketahui apa penyebab atau alasan jelas anak usia dini sering mogok sekolah. Lalu apa tindakan yang harus dilakukan oleh orang tua untuk menghadapi kondisi anak bila mogok sekolah tanpa alasan? Ada banyak hal yang dapat dilakukan atau diperhatikan oleh orang tua terutama dalam menghadapi anak usia dini, misalnya, mencari penyebabnya atau bekerja sama dengan guru untuk membujuk anak agar mau sekolah. Namun asumsi awal yang umum menjadi salah satu penyebab mengapa anak takut bersekolah adalah masalah kemandirian. Di rumah si anak kecendrungan mendapatkan perlakuan istimewa dari orang tuanya dimana segala keperluan dan kebutuhannya selalu dilayani oleh orang yang ada disekitarnya apakah perawatnya atau bahkan orang tuanya, sedangkan di sekolah si anak diajarkan untuk mandiri, melakukan segala sesuatunya sendiri dengan sedikit bantuan dari guru atau edukatornya. Hal ini yang sering memicu anak menjadi mogok sekolah karena ia merasa tidak begitu nyaman apabila mengerjakan pekerjaannya sendiri di sekolah.
Dalam mengantisipasi kondisi di atas, para pengambil keputusan di sekolah formal untuk usia dini selayaknya memahami kemandirian yang dapat dilakukan oleh seorang anak. Kemandirian anak usia dini berbeda dengan kemandirian remaja ataupun orang dewasa. Jika definisi mandiri untuk remaja dan orang dewasa adalah kemampuan seseorang untuk bertanggung jawab atas apa yang dilakukan tanpa membebani orang lain, sedangkan untuk anak usia dini adalah kemampuan yang disesuaikan dengan tugas perkembangan. Adapun tugas perkembangan adalah tugas-tugas yang harus dilakukan individu dalam tahapan usia tertentu sesuai dengan norma-norma masyarakat dan norma–norma kebudayaan, dan hal tersebut tentunya disesuaikan dengan usia dari anak-anak tersebut. Contoh: Ketika si anak mengalami kesulitan untuk membuka tempat minumnya, si anak diharapkan mampu mengucapkan kata “Tolong bukakan tempat minum saya!” dan ketika sudah mendapatkan pertolongan si anak diharapkan mampu mengucapkan kata “Terima kasih”. Hal tersebut akan menanamkan budaya santun pada diri si anak tersebut. Teori mengenai tugas perkembangan ini dicetuskan pertama kali oleh Havighurts, yakni seorang psikolog perkembangan asal Amerika. Lambat laun teori ini disempurnakan oleh psikolog perkembangan lain, seperti Ausubel, Wall, dan Andriessen. Adapun tugas-tugas perkembangan untuk anak usia dini adalah belajar berjalan, belajar makan, berlatih berbicara, koordinasi tubuh, kontak perasaan dengan lingkungan, pembentukan pengertian, dan belajar moral.
Apabila seorang anak usia dini telah mampu melakukan tugas perkambangan, ia telah memenuhi syarat kemandirian. Tetapi, untuk membentuk kemandirian anak usia dini itu gampang-gampang susah. Hal ini tergantung dari orang tua anak dalam memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan psikologis anak. Tentu saja ini merupakan tugas orang tua untuk selalu mendampingi anaknya, sebab orang tua adalah lingkungan yang paling dekat dan bersentuhan langsung dengan anak. Banyak orang tua yang bertanya, apakah anak usia dini adalah usia tepat untuk menyekolahkan anak?
II. Saat yang Tepat Anak Usia Dini Masuk Sekolah Formal.
Dari pembahasan di atas, sering kita jumpai komentar atau pendapat orang tua yang menyatakan “Anak saya masih kecil untuk bersekolah. Ia masih dua tahun. Mendingan nanti saja kalau ia sudah berusia lima tahun.” Kecendrungan orang tua yang memiliki pandangan seperti itu biasanya menganggap pendidikan pra-Sekolah Dasar (Playgroup dan Taman Kanak-Kanak) tidak begitu diperlukan.
Di Indonesia pada umumnya masih banyak orang tua yang memiliki pemikiran salah mengenai masa yang tepat untuk menyekolahkan anaknya. Hal itu disebabkan adanya faktor persepsi yang salah yang telah berkembang sejak lama, yakni usia yang tepat untuk menyekolahkan anak adalah pada usia lebih dari lima tahun. Hal ini diperparaholeh kebjakan dari pengambil keputusan bahwa usia masih dominan dalam penerimaan siswa baru di pendidikan dasar, bukan berdasarkan kompetensi anak.
Di negara-negara maju seperti Amerika, seorang anak dikatakan mampu memulai program pendidikan formal ketika ia berusia dua tahun. Asumsi tersebut atas dasar sebuah riset para ahli psikologi perkembangan di Amerika yang menyatakan bahwa kemampuan terhebat dari manusia dalam menyerap berbagai pelajaran ternyata malah justru berlangsung ketika manusia masih berusia di bawah lima tahun. Kesimpulan dari riset tersebut terangkum dalam buku Slow and Steady dan Get Me Ready karya June R. Oberlander. Ia menuliskan bahwa perkembangan otak menunjukkan bahwa waktu yang sangat baik untuk memaksimalkan kecerdasan anak harus dimulai pada tiga tahun pertama; semakin muda, semakin kuat pengaruhnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran untuk anak usia lima tahun adalah keterlambatan.
Pendapat tersebut ditangguhkan lagi oleh Gordon Dryden dan Jeanette Voss dalam bukunya yang berjudul The Learning Revolution. Dalam buku itu diungkap beberapa hasil riset para ahli yang menyatakan bahwa 50 persen kemampuan belajar manusia ditentukan pada empat tahun pertama, dan membentuk 30 persen yang lain sebelum mencapai usia delapan tahun, serta sisanya pada usia setelah itu. Di belahan benua Eropa tepatnya di Negara Inggris seorang ahli psikologi perkembangan anak bernama Tony Buzan, berpendapat bahwa saat seorang anak dilahirkan, ia adalah seorang yang brilian. Dalam dua tahun pertama daya penyerapan anak melebihi seorang profesor dalam bidang apapun. Sebenarnya pada usia dua tahun anak mulai belajar dari apa yang ia dengar, rasakan, dan lihat dari aktivitas bermain. Perlu Anda ketahui, seorang anak belajar sambil bermain. Hal ini telah dibuktikan oleh Jean Marzollo dan Janice Lloyd dalam bukunya yang berjudul Learning Through Play yang menyatakan bahwa dahulu pendidikan dan aktivitas bermain adalah sesuatu kegiatan yang berlawanan, namun sekarang dua kegiatan tersebut justru efektif diterapkan pada anak usia dini sehingga kini banyak tenaga pendidik yang menggunakan metode bermain dan belajar bahkan cara ini masuk dalam kurikulum pengajaran di sekolah.
Bila Kemandirian Diajarkan Sejak Usia Dini Anda bisa bayangkan jika nantinya anak Anda menjadi pribadi yang kurang mandiri ketika ia dewasa. Misalnya pada saat ia lulus dari kuliah yang tentunya bila dilihat dari usianya pasti sudah memasuki usia dewasa, ia masih bergantung pada Anda terutama dalam hal ekonomi atau anak anda tidak mampu mengambil sebuah keputusan bahkan tidak mampu menentukan suatu pilihan. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya ketika dewasa ia dapat mandiri. Namun pada kenyataannya masih banyak anak-anak yang pada saat dewasa ia masih bergantung pada orang tua. Ini sebenarnya sebuah kesalahan sistem pendidikan sejak si anak masih berusia dini. Dimana sebenarnya kemandirian untuk mencari nafkah tidak dimasukkan dalam materi pengajaran dasar. Hal ini karena adanya anggapan bahwa materi tersebut belum perlu diajarkan pada saat anak masih berusia dini.
Ada baiknya jika materi ketrampilan hidup dijadikan materi pengajaran dasar yang dipelajari oleh anak usia dini tentunya dengan konsep-konsep yang sederhana. Seperti contoh: si anak diajarkan untuk mengerti bahwa semua barang miliknya (susu, baju, sepatu, mainan, dll) diperoleh karena orang tua bekerja untuk mencari uang supaya mampu membeli semua yang dia butuhkan. Karena itu, perlu adanya sikap tegas terhadap anak bahwa tidak semua yang dia inginkan harus dipenuhi atau mengajarkan si anak untuk menabung terlebih dahulu sebelum membeli sesuatu. Dengan konsep seperti itu, dalam diri anak akan tertanam nilai untuk menghargai jerih payah orang tua sekaligus belajar menjadi pribadi mandiri. Materi yang bersifat akademis bisa dikatakan sebagai salah satu dari sekian banyak mata pelajaran yang harus dipelajari anak di sekolah yang utama adalah ketrampilan anak untuk menjadi seorang yang mandiri.
Banyak manfaatnya jika pelajaran mengenai kemandirian diajarkan pada anak usia dini. Tidak hanya teori, melainkan mengajak anak untuk mempraktekannya dengan konsep-konsep sederhana tanpa harus menunggu lulus SMA atau lulus Perguruan Tinggi. Tentu hasilnya akan lebih efektif dan maksimal jika hal itu diajarkan pada usia dini.
III. Kesiapan Anak Usia Dini Masuk Sekolah Formal.
Dengan melihat realita yang terjadi di masyarakat, sering orang tua jadi memiliki pemahaman dan pertanyaan “Apa anak saya bisa bersekolah? Ia kan baru berusia dua tahun, untuk berbicara saja ia masih terbata-bata.”
Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa usia dini merupakan masa yang tepat untuk menyekolahkan anak. Jika Anda hendak mnyekolahkan anak Anda di Playgroup tentu hal itu bukan masalah. Sebab di sekoah Playgroup materi pengajarannya lebih mengacu pada aktivitas bermain dan bersosialisasi dengan teman sebaya. Jika anak Anda masih belum fasih berbicara ia tentu dapat meniru aktivitas yang diperagakan oleh gurunya misalnya ketika guru memperagakan cara menempel kertas warna. Dengan demikian anak tersebut dapat mempelajari berbagai hal tanpa ia harus mengutarakan sesuatu.
Dengan adanya aktivitas pembicaraan guru dan teman sekelas yang mungkin lebih fasih berbicara tentu anak Anda nantinya dapat belajar berbicara. Misalnya ia bisa menirukan ucapan dari teman ataupun dari guru. Karena itu, Anda pun tidak perlu cemas mengenai kondisi anak Anda. Teman-temannya pun secara tidak langsung membantu proses belajar bicara si anak tersebut dengan celoteh-celotehan sederhana mereka.
IV. Usia Dini Rentan Mogok Sekolah.
Dengan memahami pembahasan terdahulu yang bahwa Kemandirian anak usia dini berbeda dengan kemandirian remaja ataupun orang dewasa, sementara anak tersebut diajar oleh orang dewasa, hal ini perlu diberikan pemahaman bagi staf pengajar. Sebab tak jarang orang tua berpendapat “Aneh, sekarang anak saya koq malas atau bahkan mogok sekolah padahal kemarin ia masuk sekolah dan sangat semangat. Ketika saya bujuk untuk bersekolah, ia malah menangis,”
Anak yang masih berusia dini tentu memerlukan penyesuaian dengan lingkungan baru lebih lama dibandingkan dengan usia anak-anak yang di atasnya. Hal itu dikarena kontak sosial yang selama ini terjalin adalah dengan orang tua dan anggota keluarganya. Sedangkan untuk lingkungan sekolah tentu adalah lingkungan yang masih asing baginya. Teman-teman sekelas, guru merupakan lingkungan yang musti ia pelajari lagi sehingga untuk hari-hari pertama sekolah tentu keberadaan orang tua sangat dibutuhkan untuk mendampingi si anak. Sebaiknya persiapkan anak Anda sebelum ia masuk sekolah pertama kali. Misalnya berikan pengertian mengenai lingkungan sekolah bahwa di sekolah dia akan memiliki banyak teman, dapat bermain dengan banyak teman atau ajak anak untuk melihat suasana sekolah sebelum ia bersekolah, tidak ada salahnya bila Anda juga memperkenalkan calon guru si anak tersebut sehingga ada figure lekat pada dari anak tersebut sebelum masuk sekolah. Dengan tahapan demikian anak mulai beradaptasi dengan lingkungan sekolah sebelumnya.
Selain faktor lingkungan asing ada juga hal yang lain yang menyebabkan anak usia dini menjadi mogok sekolah. Misalnya saja karena ada teman yang tidak cocok dengan dirinya atau tidak suka pada guru, atau mungkin lebih parah lagi yakni ketakutan akan sekolah atau school pobhia. Pendampingan orang tua sangatlah penting untuk mendorong anaknya agar bersedia bersekolah kembali. Ada baiknya untuk mencari tahu penyebabnya dengan mengajak anak untuk mengungkapkan perasaan negatifnya dan berkonsultasi dengan guru kelasnya atau seorang psikolog anak dan jangan malah memberi penguatan dengan mengatakan, “ Ya sudah kalau kamu tidak masuk sekolah.” Dengan penguatan tersebut malah membuat anak akan belajar menyelesaikan masalah di sekolah dengan mogok lagi.
Lain lagi jika anak telah mulai mengalami school pobia, dimana anak menjadi sakit karena ia takut untuk bersekolah. Jika hal ini terjadi berarti masalah yang dihadapi cukup berat. Karena itu, orang tua harus benar-benar mengerti betul penyebab anak tersebut menjadi mogok sekolah. Mungkin perlu waktu yang cukup lama untuk menangani kasus ini. Dengan begitu pendampingan orang tua untuk meyakinkan anaknya ke sekolah tanpa rasa was-was membutuhkan waktu yang cukup lama, sampai si anak benar-benar siap masuk sekolah.
Kasus mogok sekolah ini dapat diatasi jika anak Anda telah mendapatkan penguatan tentang apa dan bagaimana sekolah itu sehingga anak siap ke sekolah dan mandiri sebelumnya. Karena itu, peran serta orang tua untuk menumbuhkembangkan kemandirian anak usia dini sangatlah penting.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar