Kamis, 06 Desember 2012
"LELAKI LEBIH SAYANG ANAK DARI PADA ISTRI"
Untuk mereka yang berusia > 19 thn........hanya sekedar lelucon.
♥ 99% lelaki yang beristri lebih sayang kepada anak daripada kepada istrinya. Hal ini dibuktikan, jika celana anaknya melorot pasti dibenerin, tapi celana istri yang sudah bener malah dipelorotin...:p
-
♥ 99% lelaki beristri yang sudah punya anak, kalo liat anak orang lain pasti ingat anak sendiri. Tapi kalo liat istri Orang, lupa istri sendiri.....=))
♥ Hampir 99% lelaki lebih sayang anak daripada istri. Karena anak adalah "Darah Daging", sedangkan istri hanyalah "Penjepit Daging"...=D
♥ Hampir 99% lelaki yang beristri lebih sayang anak. Dibuktikan ketika malam hari, anak sedang asyik main dirayu-rayu untuk tidur. Kalo istri yang sudah asyik tidur, eh malah diajak "main".
BATAM ( Bila Anda Tiba Anda Menyesal)
BATAM ( Bila Anda TABAH Anda Menang)
LAKI-LAKI DAN BUAYA
Surti dan Tedjo adalah sepasang kekasih yang sedang mabuk kepayang. Mereka tiggal disuatu daerah yang dipisahkan oleh sebuah sungai yang penuh dengan buaya. Meskipun tempat tinggal mereka dipisahkan sungai yang penuh dengan buaya, mereka dapat saling bertemu dengan menyeberangi sungai melalui jembatan kecil.
Pada suatu hari, terjadilah badai besar yang meruntuhkan dan menghanyutkan jembatan tersebut. Pasangan kekasih itu sangat menderita karena lenyaplah sudah satu-satunya cara yang selama ini mereka lakukan untuk bertemu. Surti setiap hari berdiri diseberang sungai menunggu sang kekasih dan menantikan datangnya mukjizat.
Beberapa waktu kemudian, Joko seorang pelaut yang berlayar sepanjang sungai itu mendekati tempat tinggal Surti. Gadis itu memanggil Joko dan meminta dia mengantarkannya ke seberang sungai untuk menemui sang kekasih Tedjo. Joko merasa gembira atas permintaan itu dan berkata “ Oh tentu saja! Saya akan dengan senang hati mengantarkan anda ke seberang, tetapi ada syaratnya, Kau harus tidur denganku dulu”.
Surti menangis mendengar syarat yang diajukan oleh Joko. Selama ini dia belum pernah berhubungan sex dengan siapapun. Dia memutuskan meminta nasehat seorang teman yang bernama Iwan. Ternyata iwan bersikap acuh tak acuh dan dingin terhadap persoalan ini. Dia hanya berpangku tangan dan berkata kepada Surti “itu urusanmu saya tak ingin terlibat”.
Jawaban Iwan yang begitu dingin membuat Surti berfikir berkali-kali mengenai masalah yang dihadapinya, akhirnya Surti memutuskan untuk memenuhi tuntutan Joko.
Ketika akhirnya Surti bertemu dengan Tedjo pada hari berikutnya, diceritakanlah kepada Tedjo apa yang telah terjadi dan bagaimana sulitnya dia berjuang untuk mendapatkan keputusan ini.
Abi sangat marah atas apa yang telah dilakukan oleh Surti dan dia mengusir gadis tersebut supaya tidak kembali lagi. Gadis malang itu berlutut dan meragkul Tedjo sambil menagis, memohon supaya Tedjo tidak meninggalkannya tetapi anak muda itu tidak menghiraukannya.
Surti pergi kepada temannya yang lain bernama anton, setelah diceritakan kisahnya dari awal sampai akhir. Anton memutuskan untuk menemui Tedjo, dia menghajar Tedjo habis-habisan.
Bahan Diskusi
1.Dari kelima orang, siapakah yang anda anggap bersalah?
2.Buatlah urutan (ranking) dari lima itu berdasarkan berat ringannya kesalaha masing-masing?
3.Ajukan alasan-alasan mengapa anda sampai pada urutan yang demikian?
Rabu, 22 Agustus 2012
Sang Pelukis
Sang Pelukis
Pada suatu hari, seorang pelukis muda ingin menikmati hasil lukisannya yang ia anggap sangat spektakuler. Sebagai seorang seniman handal, ia ingin menikmati lukisan ini di atas sebuah gunung yang tinggi, sambil menikmati matahari pagi terbit dari ufuk timur. Sambil membuat lukisan, ia berkreasi dengan asyiknya, menuangkan semua insfirasinya melalui guratan kuas ke kanvas. Tetapi ketika ia melukis, tetap saja ia melihat guratan-guratan kuas di kanvas kurang sempurna, lalu ia mengatur jarak pandang ke kanvas. Memang benar, dengan jarak itu, ia mulai menemukan apa yang ia inginkan. Dia mundur, dan mundur tanpa memperhatikan ke belakang. Tanpa ia sadari, ia sudah berdiri di mulut jurang yang sangat dalam dan terjal.
Hal ini tidak terluput dari pandangan sang Bapa pelukis tersebut. Lalu sang Bapa berpikir, jika ia berteriak mengingatkan, ia takut teriakan ini akan mengagetkan si Pelukis dan menyebabkan ia terjatuh ke dalam jurang di belakangnya. Lalu sang Bapa mengambil kesimpulan yang tepat menurut sang Bapa. Sang Bapa berlari mendekati kanvas, lalu mencoret kanvas tersebut untuk menarik perhatian sang Pelukis. Benar saja, sang Pelukis tersadar dan berlari mendekati kanvas, ia marah besar kepada sang Bapa. Namun sang Bapa tidak menjawab apa pun, hanya ia tersenyum dengan senang, sebab usahanya berhasil. Sang anak makin gusar...... lalu sang Bapa berkata...” Lihatlah ke belakang mu, engkau akan mengerti arti tindakan ku”. Sang anak melihat, lalu ia tersungkur di kaki Bapanya dan berkata....Engkau Bapa ku yang baik, Engkau telah menyelamatkan aku.
Ternyata..... di lokasi itu banyak orang lain yang menyaksikan kejadian tersebut dan berkata:
Pengunjung 1 : “ Ternyata mereka sudah mulai gila.....anak sama Bapa sama gilanya.
Pengunjung 2 : “ Ternyata Bapa nya jahat.....tidak meenghargai karya anaknya.
Pengunjung 3 : “ Ternyata Bapanya egois.....memaksakan ide kepada anaknya.
Pengunjung 4 : “ Ternyata bapanya diktator.....pemaksaan kehendak, tega merusak karya anaknya.
Pengunjung 5 : “ Ternyata bapanya kolot, tidak mengharagi karya anaknya..... dan lain-lain
Namun, ada seorang pengunjung yang juga tetangga mereka, mengamati kegiatan mereka mulai dari awal hingga akhir dari cerita ini......yaitu pengunjung 6........dia berpendapat:
Pengunjung 6 : “ Ternyata Bapanya hebat, dapat menyelamatkan anaknya dengan cara yang tepat.
Refleksi :
Dalam kehidupan saya, saya sering mengalami hal yang sama dengan pelukis ini. Setiap rencana yang kurancang dengan kuas program hidup ku ke kanvas masa depan ku.... kadang aku temukan, kanvas kehidupan yang sudah ku gores denga program yang sangat api menurutku, ternyata Dia coret kengan kuasNya. Sehingga aku sering marah buat Dia, sering pemikiran ku seperti pengunjung 1-5...... tapi aku bersyukur..... aku kadang bisa di pola pikir pengunjung 6 dan bahkan sekarang aku bisa memahami pemikiran sang pelukis. Hal ini yang sangat membuatku bahagia.....aku merasa tidak kecewa, tidak takut apa pun ketika Dia yang menulis kanvas kehidupan ku. Aku menghadapi dengan percaya, dengan kuasNya, ia melukis kanvas kehidupan ku dengan sempurna, meskipun kadang aku sulit untuk memahaminya. Aku percaya, ketika ia mencoret, membatalkan lukisan yang ku buat, aku yakin itu Dia lakukan, aku berada pada bibir jurang maut yang menakutkan, Dia lakukan itu untuk menarik perhatianku padaNya. Kadang ku sadari...aku terlelap dengan infirasi ku, infirasi dari keluarga ku....tanpa mau melihat ke belakang ketika aku berjalan mundur. Semakin kita mundur, kita menikmati lukisan yang kita buat, semakin kita mundur, semakin indah kita lihat, semakin kita terlena dan kurang hati-hati dan meliihat ke belakang. Ketika berada di bibir jurang, Ia akan bertindak untuk menyelamatkan kita, yang kadang kita merasa tidak adil menurut ukuran kita. Tapi itulah cara Dia yang terbaik untuk kita.
Dalam hal menyikapi ini, aku merasa banyak yang tidak sepaham dengan ku. Aku juga tidak tahu, apakah aku yang salah atau benar. Namun aku punya keyakinan, didalam Firmannya....Ia akan baharui aku. Memang menurut dunia...hikmad dariNya adalah sebuah kebodohan. Aku mau ikut Dia, meskipun saudara, teman dan famili membenciku. Aku akan pikul salib ku, sebab aku yakin... Dia adalah pelukis terbaik di kanvas kehidupan ku. Terima kasih Bapa ku yang baik.....kuatkan aku untuk bekerja di ladangMu. Amin...............
Rabu, 08 Agustus 2012
BINDORAN ampa UBAG
BINDORAN ampa UBAG
Aha ma na boi ipatudos hita bani bindoran? Martukar do rupani, anggo domma martukar panakkolan ni tene. Warna ni pe mintor martukar do dob hossi martukar sogopanni. Sonai ma bindoran on bani pargoluhanni. Dong do namin dear ni on, tapi dong homa do samborni. Sibar ja do homa hita boi mambuat pengalaman ni bindoran on.
Bindoran ma goranni, mahir tumang do ia bani na menyesuaihon dirini pakon ianan ni. Sipata samak mando pangidah bani bindoran on, anggo lang tulimat ipardiatei hita, lang taridah ia bani pargoluhanni. Anggo sogop ia bani bulung, mintor si ratah ma rupani, anggo sogop ia bani hayu....mintor ma homa songon hayu rupani bindoran on. Mintor samak do ia idahon bani takkolan ni ai. Sonai ma sada sifat ni binatang na sinobut nokkan ai aima BINDORAN.
Songon na sinobut nokkan ai, dong do namin dear ni on, tapi dong homa do samborni. Anjaha yakin do ahu, na binere ni Naibata do on bani bindoran on bani goluhni. Ase ulang punah bindoran on halani pemangsa na sihol manganhon bindoran on. Ibere do sada talenta bani bindoran on na laho menyelamathon dirini humbani pangidah ni pemangsa/pangagou in. Tapi na hurang suman ni....lang sadar bindoran on bani perubahan ni rupani ai. Hassi gati gabe kelemahan ai bani, ra ma pa ka tartagil jolma ia bani na mangimas talun. Halani lang taridah ia, samak do bani bulung-bulung ai. Namin... dear do boi marubah rupa, tapi halani kesadaran na penuh, anjaha ibotoh namin halani aha, anjaha ija ia laho marubah. Ase ulang pa ka tartagil jolma tikki mangimas.
Bani ianan na legan, beda do homa binatang on. UBAG ma goranan on. Bani pargoluhanni, somal do horja ni on manakko panganan ni jolma. Gati do isobut ubag on gabe gulma ni tanaman, anjaha gulma ni peliharaan. Anjaha bueinan ma na hurang dear humbani ubag on. Hal na paling menarik humbani ubag on, anggo duppar hita... masuk do ubag on hu bani lubang ni. Tapi, anggo ipudita...mintordo hebat ubag on manghorjahon horjani na merugihon hita. Ubag on marosuh bani ianan na golab anjaha kotor. Adong do homa piga-piga ubag na mamboban atap pe padalig hon naborit.
Usih hubani gambaran na dua on, buei do homa ididah hita itiru hasomanta. Adong do hasoman na lang pag manghatahon na sittong, halani mabiar ikucilhon humbani parhasomanan. Tapi na pasti, anggo domma sesuai hu bani hatani Naibata...lang pala namin hita mabiar pasal ai, halani Ia do simada haganupan. Nini sada hasoman, age pe haganup parjahat lang marharosuh bakku, asal ma ahu dohor bani Tuhan in, asal ma horjakku sesuai hubani hata ni Tuhan. Halani ai do janjiku Bani Ia na pagoluh au...nini hasoman on. Anggo bindoran nokkan tene, secara lang sadar do ia pasal perubahan ni dirini ai, tapi anggo jolma nokkanai....sadar do ia bani horjani ai, pemikiran ni ai, tapi lang pag padashon na ibagas uhur. Ia anggo Bindoran nokkan, berubah rupa do ia, tapi anggo hasoman on tene, rupa ni sarupa do, tapi uhur ampa tindakan ni do menyesuaihon diri bani ianan ni tading. Bahkan prosesni pe expres.
Ia anggo ubag nokkan, buei do homa sonon halak, manarik parsahapan ni halak pitah merujuk referensi ni dirini sandiri hassa. Anggo duppar, manis tumang parsahap, lang pag mambere gagasanni. Tapi do ipudi, manortori ma ia, anjaha ia ma ninuhurni simada tanoh on. Hape, anggo sonai...meniru ulah ni ubag do gonai ai tene.... malas uhur. Tambah parbinotohan.
Ulang ma namin adong hita na meniru hasamboran ni BINDORAN pakon UBAG on sekali gus. Anggo pala ma sonai.....repot ma hita.... lang tontang be pargaulan na sonon on. Horas........
Minggu, 05 Agustus 2012
Integritas
Integritas
Kita disebut memiliki integritas ketika kita menjadi orang yang berbicara seirama dengan tindakan kita. Bukan menjadi manusia penganut program NATO yang dibaca dengan No Action Talking Only yang berperilaku Talk Only without Action in it. Juga bukan manusia yang pandai memainkan sandiwara, yang manis di bibir namun makna lain di hati. Kita yang memiliki integritas adalah manusia yang melakoni hidup apa adanya, bukan ada apanya sehingga tidak berpura-pura dan munafik. Kita akan melakukan apa yang kita ucapkan. Ada persesuaian antara tindakan dengan ucapan. Oleh sebab itu...dalam berbicara juga kita harus penuh dengan ke hati-hatian, agar kita tidak terjebak dalam kelompok yang disebut sebagai NATO. Dengan demikian, kita dapat exist di mata masyarakat dan apapun yang kita katakan, mereka akan yakin dan percaya. Dampak dari perkataan kita, mereka akan mempercayakan haknya kepada kita, setelah itu mereka tidak merasa tertipu oleh perkataan kita.
Dalam kehidupan ini, sangat banyak yang hidup dengan dengan diri orang lain. Kecendrungan hidup dengan berdasarkan keinginan bukan kebutuhan. Tidak banyak orang yang dapat belajar hidup minus kepura-puraan. Kebanyakan kita hidup menjadi penari topeng seumur hidup. Mahir memesona orang dengan ragam topeng pelayanan,topeng pekerjaan sosial dan lain-lain sebagainya. Membual di depan umat dengan dengan cerita,gaya bicara, kemewahan dunia dengan menggunakan macam topeng pengalaman kerohanian bersama Tuhan. Namun, jika jika ditelusuri lebih jauh, tidak ada tindakan yang sebanding dengan ucapan, bahkan kita sering berperilaku sebaliknya, baik secara sadar maupun tidak. Banyak diantara kita bicara solidaritas, bicara tentang jender dan persamaan hak, namun ketika berbuat, “membuat kompetisi lomba lari diantara orang lumpuh bahkan mereka yang tidak memiliki kaki”, membuat kompetisi koor diantara mereka yang bisu, membuat kopetisi tepuk-tangan dengan mereka yang tidak memiliki tangan, membuat kompetisi membidik diantara mereka yang buta”. Apakah ini disebut dengan solidaritas? Apakah ini disebut sebagai kasih?. Menurut saya....ketika saya tidak dapat membantu, minimal saya tidak menambah sedih hatinya dengan pemikiran, pembicaraan maupun tindakan dihadapan mereka.
Beberapa kehidupan keluarga yang merasa telah diberkati Tuhan, membangun tembok pemisah antar sesama. Menganggap kesenjangan itu sebagai suatu anugerah dan berkata” Terima kasih tuhan, aku kau ciptakan tidak sama dengan mereka”. Alangkah kelirunya perkataan itu. Banyak anggapan bahwa, hidup berkecukupan itu adalah berkatNya,dan hidup dalam kesederhanaan itu adalah kutuk, akibat kurang dekat pada Tuhan. Saya tidak berani menghakimi, namun bagi saya, anugerah yang ada pada saya, adalah ujian biat saya, apakah saya mampu memenuhi rencanaNya atau tidak. Jika saya gagal, tidak berani menyuarakan kebenaran firmanNya, maka saya tak akan luput dari hukumanNya kelak. Kehidupan kita yang mengaku klien Tuhan yang selalu berkubang dalam dosa. Meskipun banyak diantara kita kalau beribadah terlihat sangat khusuk dan kudus. Semuanya itu membuktikan bahwa pemakaian topeng justru banyak terjadi di kalangan kita. Masih banyak diantara klien Tuhan tidak mengalamiperubahan meskipun sudah berlangganan tetap ke tempat-tempat ibadah.
Wajar saja di dalam kehidupan ini, integritas tidak bisa hadir meskipun dibungkus dengan kemasan luar rohani yang amat baik. Seberapa kalipun banyanya kita tampil di panggung kerohanian, tidak otomatis membuat kita menjadi orang yang berintegritas baik. Bukan hal-hal demikian yang membuat integritas muncul. Integritas baru muncul,ketika kita belajar lepas dari segala kemunafikan, kepura-puraan, dan membuka topeng “Mr.X” yang terlanjur kita gunakan dan yang membuat kita merasa nyaman sebab tidak dikenali aslinya.
Semoga bermanfaat buat kita semua, maaf ini hanya sebuah perenungan pribadi saya, yang banyak saya rasakan dalam kehidupan saya. Mudah-mudahan Dia...mengikis, bahkan membuka topeng yang saya gunakan selama ini. Semoga............
Selasa, 17 Juli 2012
Enam Jawaban Bijak
Enam Jawaban Bijak dari seorang Guru
Seorang Guru berkumpul dgn murid-muridnya, lalu beliau mengajukan 6 pertanyaan :
I. Pertanyaan 1 : Apa yg PALING DEKAT dgn diri kita di dunia ini ?
Muridnya ada yg menjawab : "orang tua", "guru", "teman", "kerabatnya".
Yg paling dekat dgn kita adalah "kematian". Sebab kematian adalah PASTI adanya...
II. Pertanyaan 2 : Apa yg PALING JAUH dari diri kita di dunia ini ?
Muridnya ada yg menjawab : "negara Cina", "bulan", "matahari".
Yg paling benar adalah “masa lalu". Siapa pun kita, bagaimana pun kita dan betapa kayanya kita... tetap kita TIDAK bisa kembali ke masa lalu. Sebab itu kita hrs menjaga hari ini, hari-hari yg akan datang...
III. Pertanyaan 3 : Apa yg PALING BESAR di dunia ini ?
Muridnya ada yg menjawab "gunung", "bumi", "matahari".
Yg plg besar dr yg ada di dunia ini adalah"nafsu"... Banyak manusia menjadi celaka krn menuruti hawa nafsunya. Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu duniawi karena itu kita hrs hati-hati dgn hawa nafsu ini...
IV. Pertanyaan 4 : "Apa yg PALING BERAT di dunia ini ?".
Di antara muridnya ada yg menjawab : "baja", "besi", "gajah", ...
Yg paling berat adalah "memegang janji"...
V. Pertanyaan 5 : "Apa yg PALING RINGAN di dunia ini ?
" Ada yg menjawab "kapas","angin", "debu", "daun-daunan"
Yg paling ringan di dunia ini adalah"Meninggalkan Ibadah"...
VI. Lalu pertanyaan 6 : "Apakah yg PALING TAJAM di dunia ini ?.
Muridnya menjawab dgn serentak... "Pedang !"
Yg paling tajam adalah "lidah manusia" karena melalui lidah, manusia dgn mudahnya menyakiti hati, melukai perasaan...
KASIH atau PENGUASAAN
KASIH atau PENGUASAAN
Oleh : St.Sarmulia Sinaga,S.T,M.T.
Pengurus Seksi Sekolah Minggu
GKPS Simalingkar Resort Medan Selatan
Dalama kehidupan nyata sekarang ini, pengalaman saya tentang ke dua hal tersebut di atas sangat susah dipisahkan dari dalam hati maupun perlakuan dalam kehidupan. Saya sering salah dalam menterjemahkannya dalam hidup ini, sehingga saya sering kecewa dalam menerima hasil maupun kenyataan yang terjadi. Dalam benak saya, saya berpikir kasih, namun dalam aktualisasinya pada kehidupan saya yang tertuang dalam sikap dan perlakuan saya cendrung mengarah pada apa yang disebut sebagai “PENGUASAAN” atas pola pikir, sikap dan tindakan orang lain. Hal ini saya sadari setelah saya membaca dan memahami secara pribadi makna “KASIH” yang sebenarnya yang tertuang pada Firman Tuhan. Saya tertegun dan bergumul ketika saya membaca :
1. I Yohanes 4:10 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.
2.I Yohanes 4:7 Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.
3. II Yohanes 1:6 Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya.
4. Roma 12:9 Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.
5. 1 Korintus 13:4 -8 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap
6. I Korintus 14:1 Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat.
7. Efesus 3:18 -19 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.
Lalu saya merenungkan, apa yang pernah saya alami, apa yang saya pikirkan dan apa yang saya lakukan, ternyata....saya telah lama keliru. Kasih yang saya pahami selama ini kecendrungan adalah penguasaan atas mereka yang saya sebut objek yang saya kasihi. Saya tidak tau persis, apakah pemikiran yang saya anut sekarang ini juga menjadi pergumulan bagi mereka-mereka yang telah terlibat dalam pelayanan, baik dalam jemaat secara umum maupun jemaat kecil yaitu keluarga. Saya tertegun dengan pertanyaan maupun pernyataan yang muncul dalam benak pemikiran saya, antara lain:
1. Maukah Anda mengasihi anak Anda tanpa syarat? Itu berarti kasih Anda tidak bergantung pada apa yang mereka lakukan. Kasih Anda kepada anak tidak lenyap hanya karena Anda marah terhadap kelakuan atau sikap mereka. Jika kasih yang sebenarnya ada pada hati dan pikiran kita, maka Firman Tuhan akan digenapi: “1 Korintus 13:8-10 Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.” Namun, jika kita mempergunakan pemikiran duniawi, hukum duniawi maka kasih yang sebenarnya akan sirna dan akan merupakan sebuah kebodohan bagi kita, kita akan terjebak pada “Kasih dengan syarat”.
2. Kasih dengan syarat adalah kasih yang menguasai dan memanipulasi.
Dalam kehidupan ini akan muncul pernyataan-pernyataan yang penuh dengan syarat, pernyataan yang implikatif, yang menganut hubungan sebab akibat. Semua perlakuan, pemikiran dan sikap terperangkap pada sebuah logika implikatif “ Jika..........maka........” dan hal ini sangat tidak tepat dengan Iman Kristiani. Coba kita renungkan, apa yang dititahkan oleh Tuhan Yesus kepada keduabelas muridNya:”Matius 10:8 Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.”dan” Roma 3:23-24 Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Allah memberikan kasihNya kepada kita dengan cuma-cuma, lalu....Siapakah kita yang telah berani membuat syarat tambahan? Sebuah perenungan yang susah saya pecahkan secara pribadi. Sering syarat itu kita buat antara lain:
a. "Aku selalu mengasihimu." bukan "Aku mengasihimu bila ...." sebab,Kasih dengan syarat adalah kasih yang menguasai dan memanipulasi Kasih Allah (Agape)
b. Dan seterusnya....................
3. Dalam hal kehidupan di keluarga, Kasih yang tanpa syarat mengusahakan yang terbaik bagi si anak. Kasih itu tidak egois, tidak mengharapkan balasan. Bila kita mengasihi untuk memperoleh balasan berupa sesuatu, berarti kita sedang memanipulasi dan mencoba menguasai anak. Kasih tanpa syarat itu sabar. Kasih ini menyediakan waktu kapan pun untuk merangkul anak-anak. Kasih ini memercayai anak dan potensi Allah di dalam diri anak. Kasih yang tanpa syarat tidak pernah menyerah atau berhenti. Kasih yang tanpa syarat bersukacita bila seorang anak sukses dan membesarkan hati si anak bila ia jatuh atau melakukan kesalahan. Kasih menolak untuk percaya bahwa kesalahan membuat seorang anak gagal.
4. Kasih yang tanpa syarat tidak mudah marah dan tidak menimbulkan kemarahan dalam diri anak-anak. Kasih ini tidak terlalu sensitif dan tidak beraksi secara berlebihan. Kasih yang tanpa syarat bersukacita dalam kebenaran dan menyampaikan kebenaran kepada seorang anak. Kasih yang tanpa syarat menanggung kesukaran, penolakan, kepedihan, dan keputusasaan. Apa pun yang dilakukan seorang anak terhadap orang tuanya, orang tua tetap mengasihi dan membesarkan hati anaknya.
Maukah kita berkata kepada anak kita, "Apa pun yang kamu lakukan, tidak ada yang sanggup membuat ayah/ibu berhenti mengasihimu!" sebab, Allah Bapa di surga telah lebih dahulu melakukan hal itu kepada kita. Kasih itu bersumber dari padaNya, sekali lagi saya tuliskan : "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap." (1 Korintus 13:4-8)
Bacaan : 77 Kebenaran yang Hakiki dalam Membesarkan Anak-Anak, karya Dr. Larry Keefauver.
( Keefauver Larry Dr. ,The 77 Irrefutable Truths of Parenting)
Langganan:
Postingan (Atom)